Menu

Suro-Boyo

432

Herajeng Gustiayu

Saya menatap seekor ikan hiu (Suro) dan buaya (Boyo) berukuran raksasa yang sedang bergelut di tengah-tengah tumbuhan air serupa ganggang, yang tentunya juga berukuran raksasa. Patung batu yang ditempatkan di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) itu tampil anggun dimandikan cahaya matahari sore. ADa dua patung bergaya serupa yang sempat saya datangi saat berada di Surabaya, selain yang berada di KBS, ada pula yang berada di Arena Ketabang Skateboard & Bike Park, yakni tempat nongkrong dan berlatih untuk anak-anak skater dan biker Surabaya. Namun saat itu tak sedikit pun pikiran saya bertanya-tanya alasan kenapa simbol Suro dan Boyo yang dipilih untuk melambangkan kota Surabaya.

Pertempuran hewan Suro dan Boyo adalah salah satu versi dari banyak cerita yang saya dengar. Alkisah dahulu kala ada dua hewan raksasa yang sama-sama keras kepala, kuat, dan selalu berebut wilayah. Dua hewan raksasa ini adalah ikan Suro dan Boyo dalam memperebutkan area darat dan air. Awalnya mereka telah sepakat untuk membagi wilayah kekuasaan, Suro menguasai air dan Boyo menguasai darat. Pertempuran terakhir mereka berlokasi di Sungai Kalimas, sungai yang membelah Kota Surabaya. Suro berpendapat karena sungai merupakan daerah yang berair, maka ia berhak menguasai sungai. Namun Boyo berpendapat karena sungai berada di dalam daratan, maka Boyo-lah yang berhak menguasai sungai. Karena sama-sama keras kepala dan kuat, akhirnya mereka bertarung hingga kehabisan tenaga setelah bertempur sekian lama hingga air Sungai Kalimas pun memerah oleh darah. Warga yang menonton pertempuran itu pun sepakat menamakan daerah mereka “Surabaya” untuk mengenang pertempuran legendaris tersebut.

435

Versi kedua adalah pertempuran dua orang manusia, namun masih ada hubungannya dengan kedua hewan tersebut, yakni pertempuran Adipati Jayengrono yang memiliki ilmu Buaya dan Sawunggaling yang memiliki ilmu Sura pada jaman Majapahit. Adu kesaktian yang tujuannya untuk mempertahankan dan memperebutkan wilayah itu (lagi-lagi) bertempat di Sungai Kalimas, dengan (lagi-lagi) tidak adanya pemenang karena keduanya meninggal kehabisan tenaga saat bertarung.

Versi ketiga akan terdengar kurang seru dibanding yang versi pertama dan kedua, tapi pastinya lebih baik saya tetap ceritakan agar artikel ini lengkap. Asal usul nama Surabaya dapat ditafsirkan pula seperti ini: Sura berarti “selamat”, serta Baya berarti “bahaya”. Nama lain dari Surabaya adalah “Sura ing Bhaya” yang berarti “selamat dari bahaya” atau juga dapat ditafsirkan sebagai “keberanian menghadapi bahaya”. Diduga nama tersebut muncul setelah Kota Surabaya selamat dari mara bahaya berupa perang besar. Disinyalir perang besar itu adalah ketika terjadinya perang pada abad ke-13 antara raja Jawa, Raden Wijaya, dengan pasukan Tartar yang berada di bawah dinasti Mongol. Coba tebak di daerah mana perang ini berlokasi? Ya, di sekitar Sungai Kalimas! Tapi untungnya kali ini Raden Wijaya yang menang, sehingga Kota Surabaya tidak jadi dikuasai dinasti Mongol.

Namun jika dipikirkan kembali, Sungai Kalimas memang merupakan urat nadi Kota Surabaya pada zaman keemasan kerajaan maritim. Rata-rata pada setiap peradaban, asal mula sebuah pemukiman memang berpusat pada sumber air. Apalagi apabila dilihat di peta, kedua ujung Sungai Kalimas menuju ke lautan, sehingga cocok sebagai jalur transportasi air yang amat efektif dan efisien sebagai jalur perdagangan. Memang tak mengherankan jika diperebutkan.

Kini Sungai Kalimas yang digembor-gemborkan dalam berbagai versi cerita legenda tersebut tidak lagi aktif sebagai jalur transportasi air. Namun, yang paling saya kagumkan dari Sungai Kalimas adalah sebagai sungai yang berada di perkotaan besar, sungai ini tergolong cukup bersih dan tidak berbau, apabila dibandingkan sungai besar di kota lainnya. Terutama jika dibandingkan dengan Kali Ciliwung di Jakarta yang sudah berpolusi tingkat tinggi.

Walaupun kini tidak aktif sebagai jalur transportasi, Sungai Kalimas ini masih memperlihatkan aktivitas sekumpulan atlet yang berlatih olahraga mendayung di sepanjang sungai tersebut. Seorang teman pun sempat menjelaskan kepada saya bahwa sewaktu-waktu di sepanjang Sungai Kalimas diadakan tur menjelajahi sungai yang berangkat dari lokasi Monumen Kapal Selam. Sayang, saya tidak sempat mencobanya. Pastinya mencoba tur jelajah sungai, bukan berlatih mendayung.

Mengkaitkan asal-usul nama Surabaya dengan karakter asli penduduk Surabaya (Jawa Timuran) yang relatif lebih keras, percaya diri, dan berani dibandingkan dengan penduduk Jawa lainnya nampaknya juga pas. Apalagi jika dikaitkan dengan karakter bonek yang terkenal “beringas” itu, di otak saya terbayang kembali pertempuran Suro dan Boyo membela kepercayaan masing-masing hingga titik darah penghabisan. Mungkin karena itu juga lah, simbol Suro dan Boyo diambil dengan bangga sebagai lambang Kota Surabaya.

blog comments powered by Disqus
The Best betting exchange Bonus BetFair
Reviw on bokmaker Number 1 in uk ArtBetting.net William Hill best bookies
Themes Download - Bigtheme.net
UK Betting sites